Langsung ke konten utama

Postingan

FIRECRACKERs: The XQYZM

Today inzee-fire.blogspot.com officially xqyzm.com! Apaan tuh xqyzm, dibacanya susah banget. XQYZM dibaca skizm yg diambil dari kata skizofren sebagai makna 'orang dengan skizofrenia' dan digaulkan ke bahasa QDJY. Teman, ini dunia saya yang baru. Selamat datang untuk kalian para alter yang cerdas. P.S: launch bertepatan dengan hari ulang tahun sahabat saya :D

Paranoia #4: El dan Deja vú

"Tolong." Desah suara yang tidak asing di telinga Inji menggema sampai ujung lorong asrama perempuan. Ah, cewek fanatik teori kucing schrödinger itu berulah lagi. Dugaannya salah, suara itu berasal dari otaknya sendiri. -time wrap- Inji terdiam, dia samasekali tak mengenali tempat ini. Dan dihadapannya sudah ada pemilik dirinya. "Deras juga hujannya. Beruntung kita sudah berteduh di kafe ini," kata Electra sembari mengaduk tehnya yang baru diberi susu. "Halo. Kita bertemu lagi." "Rasanya ada yang berbeda dari dirimu. Matamu, ya matamu kenapa, Nji?" Lanjutnya. Inji menggeleng pelan. "Sudahlah, mengaku saja. Kau sudah tidak tidur berapa hari?" "Lima." Mereka tertawa. "El, aku sungguh berhutang padamu. Kemarin malam itu..." "Tak perlu dibahas, aku sudah tau itu. Kau hanya perlu istirahat sekarang." [System database turned off] "Maafkan aku, Nji. Demi kebaikanmu." "Malam itu meman...

Paranoia #5: El dan Deja vú

"Tolong." Desah suara yang tidak asing di telinga Inji menggema sampai ujung lorong asrama perempuan. Ah, cewek fanatik teori kucing schrödinger itu berulah lagi. Dugaannya salah, suara itu berasal dari otaknya sendiri. -time wrap- Inji terdiam, dia samasekali tak mengenali tempat ini. Dan dihadapannya sudah ada pemilik dirinya. "Deras juga hujannya. Beruntung kita sudah berteduh di kafe ini," kata Electra sembari mengaduk tehnya yang baru diberi susu. "Halo. Kita bertemu lagi." "Rasanya ada yang berbeda dari dirimu. Matamu, ya matamu kenapa, Nji?" Lanjutnya. Inji menggeleng pelan. "Sudahlah, mengaku saja. Kau sudah tidak tidur berapa hari?" "Lima." Mereka tertawa. "El, aku sungguh berhutang padamu. Kemarin malam itu..." "Tak perlu dibahas, aku sudah tau itu. Kau hanya perlu istirahat sekarang." [System database turned off] "Maafkan aku, Nji. Demi kebaikanmu." "Malam itu meman...

Selamat Pagi :)

Sajakku, sajakmu Karya kita Dimana padang pasir bertiup debu, hujan angin baju basah, panas terik keringatan Senyum. Ya, kamu senyum Gelitik tingkah lakumu membuatku lepas pegal linu Dari seharian duduk diam memperhatikan Makhluk-makhluk listrik bermata matematika begitu dipukul rusak Berlarian aku keliling samudera Tidak mungkin. Sepatu ini sudah sobek, 3 tahun dia mau terinjak Pengap ruangan ini berisi asap sisa-sisa napas kering Terengah-engah Dikejar-kejar orang hitam berkulit putih pucat Alamak Sedaritadi cuma makan buah tidur Buang waktu, si fajar sudah bangun. - Sebuah catatan random yang kubuat ketika halusinaai merajai di sebuah kelas.

Paranoia #3

Di suatu sore bersama secangkir teh tawar anyep , Inji bercerita: "...Semesta, begitu aku menyebut namaNya. Panggilan sayang untuk suatu energi atau dzat yang maha dahsyat. KupanggilNya 'Semesta', kau ingat pelajaran Matematika mengenai diagram lingkaran? Seperti itulah. Penguasa seluruh alam. Semesta-lah yang memiliki isi diagram-diagram tersebut," ucapnya meracau. -

Paranoia #2

Di bawah naungan hujan dan KFC Krushers, aku kembali bercerita... Makhluk kecil. Makhluk besar. Makhluk bertahta. Makhluk hina. Makhluk tidak ber tanduk. Makhluk tidak berekor. Sekecil apapun ukurannya. Sebesar apapun tekadnya. Sekaya apapun orangnya. Mereka berebut kekuasaan. Serupa dengan sandiwara binatang. Kaum minoritas, Tetap tertindas. Meskipun keadilan ditulis bermaterai, Percuma. Cirebon, 17 Januari 2013. Published with Blogger-droid v2.0.6

Paranoia #01

Dipertemukan dengan kalkulus rasanya seperti melihat bom waktu atau microwave. Bahkan lebih mirip seperti memegang batang bunga euphorbia. Sakit. Tapi teradiksi. Mendadak, kilatan putih menari-nari di hadapannya. Listrik yang berbentuk gumpalan rambut bercabang menari di atas kepalanya. Petir, begitu manusia menyebutnya. Inji begitu gundah, diiringi irama tubuh kerajaan awan, suara hujan mengantarnya ke dimensi lain. Dimana dimensi tersebut Ia dapat melihat tarian petir itu makin progresif. Sekali lagi, Inji mengalami halusinasi. Angka-angka di dalam modul matematikanya bergerak, berpindah keluar dari halaman buku. Awalnya mereka ramai berkerumun, kemudian membentuk barisan dan kembali lagi ke tempat masing-masing sambil menyanyikan lagu berbahasa Rusia. Mereka pikir, ini adalah medan perang. Mungkin ada benarnya. Mereka berusaha memberitahuku. Ini perang, pikirnya dalam-dalam kemudian teringat kuis dosennya yang diadakan esok pagi. "Terima kasih, kartesius." bisiknya ge...